
Ilustrasi
Di Zaman yang serba instan, Kecerdasan buatan dapat diakses dengan mudah dalam satu sentuhan. Untuk kondisi seperti sekarang, kita mungkin pernah bertanya jika semakin mudah sesuatu dilakukan atau didapatkan, maka semakin hilang kesakralan akan nilai, serta maknanya sendiri.
Sementara itu, sejarah berulang kali menjelaskan hal menakjubkan. Bagaimana manusia terdahulu menciptakan bangunan yang megah, membangun kota, menguasai berbagai bidang ilmu sampai menciptakan mesin yang memudahkan kehidupan manusia dari waktu ke waktu.

Itu dilakukan menggunakan pikiran yang sadar, ikhlas, optimis, keberanian dan keyakinan hingga akhirnya melahirkan peradaban yang maju seperti saat ini.
Sungguh disayangkan, hasil dari usaha tersebut akan menjadi bumerang bagi kehidupan kita jika tak digunakan dengan tepat.
Gaya Hidup Berlebihan berasal dari Perilaku Konsumtif
Beralih dari permulaan peradaban yang menakjubkan di atas, Di era teknologi digital yang berkembang pesat sekarang, tengah terjadi yang dimaksud ketidakseimbangan antara perilaku penggunaan teknologi digital dalam memenuhi kebutuhan menjadi keinginan atau menggunakanya secara berlebihan.
Individu cenderung mencari kepuasan dengan cara mengonsumsi barang yang bukan kebutuhannya, melainkan untuk memenuhi keinginannya (Lestari. 2018). Di samping itu, dampak menggunakan barang dan jasa secara berlebihan untuk memenuhi keinginan dan kepuasan pribadi, juga dijelaskan banyak literatur bisa memberi dampak yang buruk terhadap keberlangsungan hidup seseorang.
Banyak kita jumpai, ketika melihat barang yang di tawarkan lewat media sosial maka ada keinginan tidak sadar untuk membeli dan memakai barang tersebut, padahal itu tidak atau belum kita butuh kan.
Melihat orang lain berpenampilan dan memakai barang mewah dan menarik, sering kali memacu adrenalin untuk ingin memiliki apa yang dikenakannya. Ada dua faktor yang memengaruhi perilaku konsumtif, yakni faktor internal dan eksternal.
Faktor internal, terdiri atas: (1) faktor motivasi, di mana individu dalam membeli dan menggunakan barang/jasa dipengaruhi oleh adanya dorongan dari dalam dirinya untuk bisa memiliki dan menggunakan barang/jasa yang diinginkannya.
Faktor eksternal, : (1) faktor gaya hidup, di mana individu dalam membeli dan menggunakan barang jasa untuk memenuhi pola kehidupan agar tidak ketinggalan zaman; (2) faktor iklan, di mana individu saat membeli, menggunakan barang/jasa mudah tertarik dan terpengaruh oleh yang dipromosikan melalui iklan; (3) faktor model identifikasi diri, di mana individu dalam membeli dan menggunakan barang/jasa karena terpengaruh oleh sosok yang diidolakan atau dikagumi sehingga menjadikan idolanya sebagai role model dalam keseharian seperti mengikuti gaya hidup atau barang yang dimiliki oleh idolanya; (4) faktor keluarga, di mana individu dalam membeli dan menggunakan barang/jasa dipengaruhi oleh anggota keluarganya.
Algoritma Media Digital
Perilaku konsumtif bisa dipicu juga oleh serangkaian sistem pemrograman yang umumnya dapat memunculkan kebutuhan yang relevan bagi kita.
Saat ini teknologi digital tidak hanya berkembang semata-mata karena telah mencapai akses ke penggunanya di seluruh dunia, teknologi digital mencoba mencari tahu keinginan dari penggunanya.
Pernahkah kamu disuguhkan media sosial sesuai dengan apa yang kamu cari, posting maupun like? Algoritma telah diatur beriringan dengan berkembangnya teknologi digital saat ini.
Algoritma menjadi sebuah intruksi yang mengatur konten difilter, diberi peringkat, dipilih lalu berujung pada rekomendasi kepada pengguna platfrom digital.
Akhirnya saat ini, semakin kita mencari maka semakin mudah kita temukan apa yang kita inginkan, yang bisa menyebabkan perilaku konsumtif tak pernah benar-benar bisa dihilangkan.
Cara kerja Algoritma yang masuk dalam konsumtifitas kehidupan kita, menjadikan segalanya sudah tak punya sekat dan batasan.
Algoritma dianggap penuntun untuk kepuasan abadi bahkan menjadi standar kehidupan di Era sekarang yang telah berkembang pada ranah Kecerdasan Buatan (Artificial Intelligence), Program yang di buat untuk memudahkan seluruh proses kerja manusia.
Kita Butuh Puasa Screen-Time
Untuk membatasi perilaku konsumtif teknologi digital, Perlu memahami dan sadar bagaimana maslahatnya bagi diri sendiri.
Dalam Islam sendiri, menahan diri dalam berpuasa berarti menahan diri dari makan dan minum, sementara pada istilah lainnya mencegah atau menahan diri dari berbuat sesuatu (Al-kaffu), menahan jiwa dari rasa gelisah, menahan lidah dari keluh kesah, dan anggota tubuh dari perbuatan tidak baik (Ash-Shabr), Menahan diri secara fisik, terutama digunakan dalam konteks puasa (shaum) dari hal yang membatalkan dari terbit fajar hingga matahari terbenam (Al-Imtsak), Menahan amarah (Kadzmul Ghaizh – menahan kemarahan yang meluap (Kadzm), Menahan diri dengan menjaga kehormatan diri, seperti menahan diri dari meminta-minta atau menjaga diri dari hal-hal yang tidak halal. (Ta,affuf)
Literatur dan informasi lainnya, diantaranya dari podcast yang ahli di bidangnya seperti kesehatan mental, anjuran untuk membatasi screen-time sendiri yakni durasi menatap layar perangkat elektronik misalnya gadget, TV, Komputer maupun tablet perlu dirutinkan agar hidup lebih produktif dan Mindfulness.
Waktu screen-time kita saat ini sangat tinggi, mencapai lebih dari 7,5 jam/hari. Waktu screen time yang berlebih tersebut akhirnya berdampak buruk bagi kesehatan seperti menimbulkan masalah psikologis seperti kesulitan tidur atau insomnia.
Batasan Screen Time sendiri biasanya berbeda-beda, pada usia 3 sampai 5 tahun maksimal 1 jam tiap harinya, di atas usia 5 tahun anak sekolah maksimal 2 jam di hari libur, sementara untuk dewasa 3 sampai 4 jam tiap harinya, diluar kegiatan kerja dan belajar dengan jeda rutin.
Karena hal tersebut, puasa screen-Time atau batasan terhadap durasi waktu yang dibutuhkan dalam melihat layar Gadget atau Smartphone, menjadi harus dan wajib untuk dilakukan agar terhindar dari perilaku konsumtif teknologi yang berlebihan.
Penulis Apriani Mahasiswa UIN Datokarama Palu













